Jumat, 06 Desember 2013

Cerpen Sahabat

 Sahabat Selamanya
            Pagi hari yang cerah telah tiba, ku buka mataku secara perlahan-lahan. Melihat indahnya pemandangan di pagi hari. Seperti biasa, setelah itu aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Sesampai di Sekolah aku menuju ke ruang kelasku. Aku adalah siswi kelas VI di SDN Wiyung 1 tepatnya kelas VI-E. Aku mempunyai banyak teman diantaranya Leonardo, Ikbal, Koni, Shella, Triyasinta, Nisa, Putri, dll. Biasanya kami selalu bermain bersama-sama, baik di sekolah maupun di rumah.
            Suatu hari sepulang sekolah kami bermain bersama, tepatnya di rumah Triyasinta. Dirumah Triyasinta udaranya sangat sejuk karena banyak pepohonan disana. “ Regk, sekarang enaknya kita ngapain disini?” tanya Shella. “Nggawe rujak ae, lak enak?!” jawab Nisa. “Ealah, saben ketemu pasti senengane nggawe rujak.” Sahutku. “Yo, nggk apa-apa loch.” Sahut Nisa.
            Akhirnya kami pun memutuskan untuk membuat rujak. Nisa dan Putri membeli bahan-bahannya. Triyasinta menyiapkan peralatan untuk membuat rujak. Setelah semuanya sudah lengkap kami pun membuat rujak dengan canda gurau. Tak lama kemudian datanglah Ikbal dan Leo dengan mengendarai sepedanya. “He, regk rujak’an nggak ngajak-ngajak?!” ucap Leo. “Teko-teko nggk salam, langsung ngomong ae.” Sahut Nisa. “Lah, enggeh.” Jawab Triyasinta lemah lembut. “Ya, maaf regk. Ya wes Assalamualaikum.” Ucap Leo. “ Waalaikumsallam, hahaha..” jawab aku dan teman-temanku bersamaan sambil tertawa. “Dirimu kesini ambek sapa?” tanyaku “Iku, ambek Ikbal.” Jawabnya. “Oalah..” jawabku. Shella berkata “Regk, ayo ndang dimari.no rujak’ane. Keburu sore.” “nggeh..nggeh..” jawab Ikbal seolah-olah sedang mengejek Shella.
            Setelah rujaknya sudah siap kami pun menyantapnya dengan lahap dan gembira. Suasananya sangat menyenangkan. Hari sudah hampir sore, takut dimarahi oleh orang tua masing-masing. Kami berpamitan kepada Triyasinta dan Ibunya. “Bu, kami mau pamit pulang. Terima kasih, Assalamualaikum.” Ujar Shella. “Sin, aku pulang dulu ya terima kasih.” Sahut Koni kemudian. Sambil mengambil sepedanya masing-masing, aku dan teman-temanku pun berkata “ Terima kasih ya Sin, assalamualaikum. Mangga Bu, assalamualikum.” “Waalaikumsallam..” jawab Triyasinta dan ibunya bersamaan.



            Keesokan harinya di Sekolah, tepatnya diruang kelasku VI-E Bu Lis memulai pelajarannya. Bu Lis adalah wali kelasku di kelas VI-E, beliau orangnya ramah, murah senyum, baik, terkadang juga membuat takut. Karena biasanya waktu pelajaran dimulai, teman-temanku sering ramai termasuk juga aku. Waktu itu pelajaran yang dibahas oleh Bu Lis adalah tentang perkembangan embrio didalam rahim ibu. Pada saat itu Bu Lis memutarkan video tentang perkembangan embrio didalam rahim ibu. Dengan diiringi kata-kata yang menyentuh serta lagu berjudul  “Bunda”. Teman-temanku memperhatikan video tersebut dengan seksama. Sampai-sampai sebagian teman-temanku ada yang menangis.
            Bel istirahat pun telah berbunyi dan begitu pula dengan videonya telah berakhir. Aku dan teman-temanku Nisa, Putri, Shella, Triyasinta, dan Koni segera beranjak dari tempak duduk kemudian pergi kekantin Sekolah. Dengan mengusap air mata yang berlinang kami berjalan menuju kantin. Sampai di kantin kami bertemu dengan teman yang berbeda kelasnya  “Nisa, kamu kenapa? Kayaknya kamu habis nangis ya?” tanyanya. “Nggk, apa-apa kok.” Jawab Nisa. “Kenapa ya, dia?” ucapnya perlahan. “Itu loh, tadi habis di puterin video yang diiringi lagu yang judulnya Bunda.” Sahutku. “Oalah..” jawabnya seakan mengerti.
            Hari- hari pun telah berjalan begitu cepat, suatu ketika Nisa datang ke kelas dengan wajah yang tampak murung tidak seperti biasanya. Nisa yang ceria, murah senyum, dan bersemangat.
“Pagi Nis?” sapaku.
“Pagi..” jawabnya tanpa senyum.
“Kenapa kamu Nis, kayaknya kok nggk bersemangat gitu?”
“Nggk apa-apa kok.”
Aku heran dengan tingkah laku Nisa pada saat itu. Biasanya dia lah yang selalu bersemangat diantara kawan-kawanku (Putri, Shella, Koni, Triyasinta). Semakin lama kebersamaanku dan kawan-kawanku mulai rapuh, tidak seperti dulu lagi yang selalu ceria. Aku bertanya-tanya dalam hati “Apakah ini bermula karena adanya suatu masalah yang terjadi pada sahabaku Nisa?” Akhirnya aku mencoba mencari tau apa yang membuat sahabatku Nisa tidak tampak ceria seperti biasanya.



            Dengan bantuan kawan-kawanku yang lainnya, aku mencoba mencari tau permasalahan apa yang sedang dihadapi oleh Nisa sampai Nisa tidak ceria lagi seperti dulu. Aku berunding dengan teman-temanku, tentang apa yang harus kita lakukan agar masalah ini dapat terpecahkan. “Gimana kalau kita kerumah Nisa?” usulan Putri terucap. “Ngapain kita kerumah Nisa?” tanya Triyasinta. “Tanya langsung sama Nisa, sebenarnya kamu ini kenapa kok akhir-akhir ini terlihat murung. Gimana?” ucap Putri. “Tapi kalau Nisa nggak mau buka mulut, gimana?” sahutku. “mmmm.. nggk tau.” Sahut Putri dengan wajah bingung. “Oh.. Gini aja kita kerumah Nisa, tanya sama ibunya apa ada masalah sama Nisa? Gimana?” usulan Koni. Tanpa berpikir panjang kami langsung setuju dengan usulan Koni yang smart.
            Keesokan harinya kami pun kerumah Nisa, tepatnya pada hari Minggu. Setelah sampai di depan pintu rumahnya kami ngucapkan salam secara bersamaan “ Assalamualaikum..”. Tak lama kemudian ada seseorang yang membukakan pintu dan menjawab salam kami. “Waalaikumsallam, cari siapa ya?” tanya mama Nisa. “Oh.. Ini te, mau cari Nisa. Nisanya ada?” tanya Putri. Kami memang sudah merencankan hal itu sebelumnya. Untungnya Nisa pada saat itu sedang tidak ada dirumah. Dan mama Nisa pun mempersilahkan kami masuk.
“Mari nak, silakan masuk. Paling-paling Nisa habis ini pulang kok, tadi dia ikut sama bapaknya pergi sebentar.”
“Iya.. te.” Jawabku.
            Kemudian Mama Nisa meninggalkan kami diruang tamu. Mama Nisa menuju kearah dapur seakan-akan mau membuatkan kami minuman. Seakan-akan tau kalau kami kehausan. Tak lama, Mama Nisa membawakan beberapa cangkir minuman dan menyuguhkannya kepada kami.
“Ini Nak minumannya, pasti tadi kalian kepanasan dalam perjalanan kesini dan kalian merasa haus.”
“Terima kasih te, ngerepotin aja.” Jawabku.
“Tante tinggal dulu ya. Tante mau nyiapin buat besok mau pergi.”
“Memangnya besok tante mau pergi kemana?” tanya Putri.



“Loh.. Memangnya Nisa belum cerita sama kalian ya?”
“Cerita.. Cerita tentang apa te? Nisa nggk cerita apa-apa sama kami?!” tannya Triyasinta dengan wajah bingung.
“Iya te, cerita apa? Malahan, akhir-akhir ini Nisa sering terlihat murung di sekolah.” Ujar Koni.
“Loalah, gini loh. Bapaknya Nisa kan besok pergi ke Bandung untuk urusan pekerjaan. Dan disuruh kantornya untuk menetap disana. Jadi, kami sekeluarga pun harus ikut pindah kesana. Mungkin Nisa nggak mau membuat kalian sedih.”
“Oalah.. gitu ya tante. Jadi, sekolah Nisa juga harus pindah dong?” tanyaku ingin menangis.
“Iya, tante tinggal dulu ya?”
“Iya..”  jawab kami serentak.
            Tidak lama kemudian Nisa pun datang bersama bapaknya. Nisa terkejut melihat kami sudah berada diruang tamunya.“Loh.. kalian ada disini?” tanya Nisa.“Iya Nis, kita ingin bermain kerumahmu. Tidak apa-apa kan?” ucap Putri yang biasanya suaranya keras menjadi lemah lembut. “Nis, kenapa kamu nggak cerita sih sama kita?” ucap Shella. “Maaf, teman-teman aku nggak mau bikin kalian sedih. Aku sebenarnya juga ingin masih disini. Tapi apa daya.” Jawab Nisa seolah-olah tau apa yang sedang kami maksud. “Tapi kan, kamu bisa cerita sama kami. Kenapa kamu murung di sekolah. Kamu jahat Nis!” Tanyaku seolah-olah tidak mau berpisah dengan Nisa. “ Maafkan aku teman-teman, maafkan aku.” Jawab Nisa dan air matanya berlinang dipipinya.
            Kami pun berangkulan seolah-olah tak mau terpisahkan. Tapi ini lah jawaban permasalahan yang telah terjadi. Nisa harus pergi ke Bandung meninggalkan kami sahabatnya. Kami pun harus berat hati melepaskan kepergiaan Nisa ke Kota Bandung. Sebelum Nisa pergi kami secara serentak berkata “Sahabat akan selalu ada dalam keadaan suka maupun duka. Kami sahabat selamanya”

By : Yuniar Arij Puspita Ningrum
‎14 ‎Oktober ‎2013, ‏‎15:59:05

IPS Sejarah Kelas IX

     Cara Diplomasi Yang Dilakukan Dalam Rangka Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

·         Pertemuan Soekarno – Van Mook
Pertemuan antara wakil-wakil Belanda dengan wakil Indonesia diprakarsai oleh Panglima AFNEI yaitu Letnan Jenderal Sir Philip Christison pada tanggal 25 Oktober 1945. Dalam pertemuan tersebut pihak Indonesia diwakili oleh Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan H. Agus Salim, sedangkan pihak Belanda Diwakili oleh Van Mook dan Van Der Plas.
Pertemuan ini merupakan pertemuan untuk menjajagi kesepakatan kedua belah pihak yang berselisih. Presiden Ir. Soekarno mengemukakan kesediaan Pemerintah Republik Indonesia untuk berunding atas dasar pengakuan hak rakyat Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri.
Sedangkan Van Mook mengemukakan pandangannya mengenai masalah Indonesia si masa depan bahwa Belanda ingin menjalankan untuk indonesia menjadi negara persemakmuran berbentuk federal yang memiliki pemerintah sendiri di lingkungan kerajaan Belanda. Yang terpenting menurut Van Mook bahwa pemerintah Belanda akan memasukkan Indonesia menjadi anggota PBB.
Tindakan Van Mook tersebut disalahkan oleh Pemerintah Belanda terutama oleh Parlemen, bahkan Van Mook akan dipecat dari jabatan wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Indonesia).

·         Pertemuan Sjahrir – Van Mook
Pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 17 November 1946 di Markas Besar Tentara Inggris di Jakarta (Jalan Imam Bonjol No.1). Dalam pertemuan ini pihak sekutu diwakili oleh Letnan Jenderal Christison, pihak Belanda oleh Van Mook , sedangkan pihak Indonesia diwakili oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir.
Sebagai pemrakarsa pertemuan ini, Christison bermaksud mempertemukan pihak Indonesia dan Belanda disamping menjelaskan maksud kedatangan tentara Sekutu, akan tetapi pertemuan ini tidak membawa hasil.




·         Perundingan Sjahrir – Van Mook
Untuk mempertemukan kembali pihak Indonesia, Pemerintah Inggris mengirimkan seorang diplomat ke Indonesia yakni Sir Archibald Clark Kerr sebagai penengah.
Perundingan ini dilakukan pada tanggal 10 Februari 1946. Pada perundingan tersebut Van Mook menyampaikan pernyataan politik pemerintah Belanda antara lain sebagai berikut :
·         Indonesia akan dijadikan Negara Commonwealth berbentuk federasi yang memiliki pemerintahan sendiri di dalam lingkungan kerajaan Belanda.
·         Urusan dalam negeri dijalankan Indonesia sedangkan urusan luar negeri dijalankan pemerintah Belanda.

Selanjutnya pada tanggal 12 Maret 1946 Sjahrir menyampaikan usul balasan yang berisi antara lain sebagai berikut :
·         Republik Indonesia harus diakui sebagai Negara yang berdaulat penuh atas wilayah bekas Hindia Belanda.
·         Federasi Indonesia – Belanda akan dilaksanakan pada masa tertentu dan urusan luar negeri dan pertahanan diserahkan kepada suatu badan federasi yang terdiri atas orang-orang Indonesia dan Belanda.
Pada tanggal 27 Maret 1946 Sutan Sjahrir mengajukan usul baru kepada Van Mook antara lain sebagai berikut :
·         Supaya pemerintah Belanda mengakui kedaulatan de facto RI atas Jawa dan Sumatera.
·         Supaya Republik Indonesia dan Belanda bekerja sama membentuk RIS.
·         RIS bersama-sama dengan Nederland, Suriname, Curacao, menjadi pesertadalm ikatan Negara Belanda.

·         Perundingan di Hooge Veluwe
Perundingan ini dilaksanakan pada tanggal 14-25 April 1946 di Hooge Veluwe (Negeri Belanda), yang merupakan kelanjutan dari pembicaraan yang telah disepakati Sjahrir dan Van Mook. Para delegasi dalam perundingan ini adalah :
·         Mr. Suwandi, dr.Sudarsono, dan Mr. A.K Pringgodigdo yang mewakili pihak pemerintah RI.
·         Dr. Van Mook, Prof. Logemann, Dr.Idenburgh, Dr.Van Royen, Prof.Van Asbeck, Sultan Hamid II, dan Surio Santosa yang mewakili Belanda.
·         Sir Archibald Clark Kerr mewakili sekutu sebagai penengah.
Perundingan yang berlangsung di Hooge Veluwe ini tidak membawa hasil karena Belanda menolak konsep hasil pertemuan Sjahrir – Van Mook – Clark Kerr di Jakarta.




·         Perundingan Linggarjati
Pemerintah Inggris masih memiliki perhatian besarterhadap penyelesaian pertikaian Indonesia – Belanda dengan mengirim Lord Killearn sebagai pengganti Prof. Schermerhorn.
Pada tanggal 7 Oktober 1946 Lord Killearn berhasil mempertemukan wakil-wakil pemerintah Indonesia dan Belanda ke meja perundingan yang berlangsung di rumah kediaman Konsul Jenderal Inggris di Jakarta. Hasil kesepakatan yaitu antara lain sebagai berikut :
·      Gencatan senjata diadakan atas dasar kedudukan militer pada waktu itu dan atas kekuatan militer Sekutu serta Indonesia.
·      Dibentuk sebuah komisi bersama genjatan senjata untuk masalah teknis pelaksanaan gencatan senjata.
Dalam mencapai kesepakatan di bidang politik antara Indonesia dengan Belanda  diadakanlah perundingan Linggarjati yang diadakan pada tanggal 10 November 1946 di Linggarjati, sebelah selatan Cirebon. Delegasi Belanda dipimpin oleh Prof. Schermerhorn, dengan anggotanya Max Van Poll, F. De Baer dan H.J. Van Mook. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir, dengan anggotanya Mr. Moh Roem, Mr. Amir Sjarifoeddin, Mr.Soesanto Tirtoprodjo, Dr. A.K. Gani, dan Mr. Ali Borddiarjo. Sedangkan sebagai penengahnya adalah Lord Killearn.
Hasil perundingan Linggarjati ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947, yang isinya adalah sebagai berikut :
·      Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Belanda harus sudah meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
·      Republik Indonesia dan Belanda akan kerjasama dalam membentuk NIS, dengan nama RIS, yang salah satu bagiannya adalah RI.
·      Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia – Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.

·         Perundingan Renville
Perundingan ini diadakan diatas kapal pengangkat pasukan Angkatan Laut Amerika Serikat “USS Renville” yang sedang berlabuh di pelabuhan Tanjong Priok, Jakarta.
Perundingan Renville dimulai pada tanggal 8 Desember 1947. Delegasi Indonesia dipimpim oleh Mr. Amir Syarifuddin, sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh R. Abdulkadir Widdjojoatmodjo.
Isi perundingan Renville :
·      Pemerintah RI mengakui kedaulatan Belanda atas Hindia Belanda sampai pada waktu yang ditetapkan oleh kerajaan Belanda untuk mengakui Negara Indonesia Serikat (NIS).
·      Akan diadakan pemungutan suara untuk menentukan apakah berbagai penduduk Jawa, Madura, dan Sumatera menginginkan daerahnya bergabung dengan RI atau negara bagian lain dari NIS.
·      Tiap negara (bagian) berhak tinggal di luar NIS atau menyelenggarakan hubungan Khusus dengan NIS atau dengan Nederland.

·         Persetujuan Roem – Royen
Pada tanggal 18 Desember 1948 Dr. Bell mengumumkan tidak terikat dengan perundingan Renville dan dilanjutkan dengan tindakan agresi militernya yang kedua pada tanggal 19 Desember 1948 pada pukul 06.00 pagi dengan menyerang Ibukota Republik Indonesia berpusat di Yogyakarta.
Dengan peristiwa ini Komisi Tiga Negara (KTN) diubah namanya menjadi Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Indonesia (United Nations Commition for Indonesia atau UNCI). Komisi ini bertugas melancarkan perundingan-perundingan antara Indonesia dengan Belanda.
Pada tanggal 7 Mei 1949 Mr. Roem selaku ketua delegasi Indonesia dan Dr. Van Royen selaku ketua delegasi Belanda yang masing-masingnya memberikan pernyataan sebagai berikut :
1.        Pernyataan Mr. Moh Roem
·         Mengeluarkan perintah kepada “Pengikut Republik yang bersenjata” untuk menghentikan perang gerilya.
·         Bekerja sama dalam hal mengembalikan perdamaian dan menjaga ketertiban dan keamanan.
·         Turut serta dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag dengan maksud untuk mempercepat “penyerahan” kedaulatan yang sungguh-sungguh dan lengkap kepada Negara Indonesia Serikat, dengan tidak bersyarat.
2.      Pernyataan Dr. Van Royen
·         Menyetujui kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta.
·         Menjamin penghentian gerakan-gerakan militer dan pembebasan semua tahanan politik.
·         Tidak akan mendirikan atau mengakui Negara-negara yang berada di daerah –daerah yang dikuasai RI sebelum tanggal 19 Desember 1948 dan tidak akan meluaskan negara atau daerah dengan merugikan Republik.
·         Menyetujui adanya RI sebagai bagian dari NIS.
·         Berusaha dengan sungguh-sungguh agar Konferensi Meja Bundar segera diadakan setelah Pemerintah RI kembali ke Yogyakarta.

·         Konferensi Meja Bundar (KMB)
Dilaksanakan di Den Haag Belanda pada tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949. Sebagai ketua KMB adalah Perdana Menteri Belanda, Willem Drees. Delegasi RI dipimpin oleh Drs. Moh. Hatta, BFO dibawah pimpinan Sutan Hamid II dari Pontianak, dan delegasi Belanda dipimpin Van Maarseveen sedangkan dari UNCI sebagai mediator dipimpin oleh Chritchley.
Pada tanggal 2 November 1949 berhasil ditandatangani persetujuan KMB. Isi dari persetujuan KMB adalah sebagai berikut :
·       Belanda mengakui kedaulatan kepada RIS pada akhir bulan Desember 1949, tepatnya pada tanggal 27 Desember 1949.
·       Mengenai Irian Barat pengakuannya ditunda setelah pengakuan kedaulatan.
·       Antara RIS dan kerajaan  akan diadakan Uni Indonesia-Belanda yang akan diketuai oleh Ratu Belanda.
·       Segera akan dilakukan penarikan mundur seluruh tentara Belanda.

·       Pembentukan Angkatan Darat Perang RIS (APRIS) dengan TNI sebagai intinya.

Cr : ‎06 ‎Oktober ‎2013, ‏‎10:48:26

Bela Negara (PKN, Kelas IX)

      Pengertian Bela Negara
Bela negara adalah sikap dan  perilaku warga negara yang dilandasi cinta tanah air untuk mempertahankan ancaman dari dalam maupun dari luar negara. Bagi warga negara Indonesia, usaha pembelaan negara dilandasi oleh kecintaan pada tanah air (wilayah Nusantara) dan kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia dengan keyakinan pada Pancasila sebagai dasar negara serta berpijak pada UUD 1945 sebagai konstitusi negara.
Wujud dari usaha bela negara adalah kesiapan dan kerelaan setiap warganegara untuk berkorban demi mempertahankan kemerdekaan kedaulatan negara, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, keutuhan wilayah Nusantara dan yuridiksi nasional serta nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

      Unsur Dasar Bela Negara
a.       Cinta Tanah Air
b.       Kesadaran Berbangsa & bernegara
c.        Yakin akan pancasila sebagai ideologi negara
d.       Rela berkorban untuk bangsa & negara
e.        Memiliki kemampuan awal bela negara
f.     Berdasarkan UUD 1945 pada pasal 30 tertulis bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara.” Dan “syarat-syarat tentang pembelaan diatur oleh UU.” Jadi sudah jelas, mau tidak mau kita wajib ikut serta dalam membela negara dari segala macam ancaman, gangguan, dan hambatan baik yang datang dari dalam maupun dari luar.

      Arti Pentingnya Bela Negara
a.   Bela negara merupakan wujud kecintaan warga negara kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.
b.   Upaya bela negara selain sebagai kewajiban dasar manusia juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan rela berkorban dalam mengabdi pada negara dan bangsa.
c.       Bangsa Indonesia cinta perdamaian, tetapi lebih cinta kemerdekaan dan kedaulatannya.
d.    Bangsa Indonesia menentang segala bentuk penjajahan dan menganut politik luar negeri bebas aktif.
e.     Bentuk perlawanan Indonesia dalam rangka membela kemerdekaan dan kedaulatannya bersifat kerakyatan, kesemestaan, dan kewilayahan.



       Dasar Hukum tentang Bela Negara
a.       Tap MPR No.VI Tahun 1973 tentang konsep Wawasan Nusantara dan Keamanan Nasional.
b.      Undang-Undang No.29 tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat.
c.      Undang-Undang No.20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Hankam Negara RI. Diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988.
d.      Tap MPR No.VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI.
e.       Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang Peranan TNI dan POLRI.
f.       Amandemen UUD '45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3.
g.      Undang-Undang No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
h.      Undang-Undang No.56 tahun 1999 tentang Rakyat Terlatih
     Hubungan antara penanaman pohon di lingkungan sekolah dengan wujud upaya Bela Negara sebagai seorang pelajar
Bela negara biasanya selalu dikaitkan dengan militer atau militerisme, seolah-olah kewajiban dan tanggung jawab untuk membela negara hanya terletak pada Tentara Nasional Indonesia (TNI). Seiring dengan perjalanan panjang bangsa Indonesia yang telah memasuki usia ke-68 tahun kemerdekaannya, maka upaya bela negara bukan berarti harus mengangkat senjata namun sebenarnya wujud cinta tanah air, yaitu mengisi kemerdekaan dengan pengabdian yang tulus ikhlas kepada bangsa dan negara demi keselamatan seluruh bangsa Indonesia.
Berkaitan dengan itu menanam pohon juga disebut wujud upaya pembelaan negara dikarenakan menanam pohon sama artinya menanam oksigen untuk kelangsungan hidup rakyat banyak. Dan artinya orang yang menanam pohon lebih mementingkan kepentingan orang banyak daripada mementingkan dirinya sendiri.
Seorang pelajar yang menerapkan penanaman pohon di sekitar lingkungan sekolah dengan wujud pembelaan negara sangatlah menakjubkan. Dikarenakan pelajar tersebut menginginkan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman. Selain itu seorang pelajar tersebut ingin memberikan contoh kepada masyarakat Indonesia mengenai cara yang paling mudah dalam upaya pembelaan negara.
Mengapa menanam pohon dikatakan cara yang paling mudah dalam upaya pembelaan negara? Dikarenakan menanam pohon adalah hal yang sangat terbilang mudah untuk dilaksanakan dan dampaknya pun sangat menguntungkan bagi lingkungan di negara kita. Yaitu lingkungan negara Indonesia menjadi lebih nyaman untuk ditempati, udaranya menjadi sejuk, dapat mengurangi polusi udara yang semakin banyak terjadi, mencegah menipisnya lapisan ozon,  dan lain-lain.
Tanpa lingkungan yang nyaman, masyarakat tidak akan bisa hidup dengan nyaman juga. Pembelaan negara sangatlah penting, karena dengan adanya upaya pembelaan negara kehidupan rakyat di suatu negara menjadi lebih sejahtera dan tidak ada pemberontakan baik dari dalam negara maupun dari luar negara.
Upaya bela negara tidak hanya penanaman pohon di lingkungan sekolah saja, tetapi sangatlah banyak. Seperti perlindungan hutan.  Perlu kita pahami bersama bahwa hutan bukan hanya sekumpulan pepohonan yang mampu menghasilkan kayu, tetapi lebih dari itu hutan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang tidak ternilai harganya, karena hutan sesungguhnya merupakan ekosistem penyangga kehidupan. Hutan bukan saja menyangga kehidupan masyarakat setempat, namun juga bagi seluruh bangsa Indonesia bahkan masyarakat internasional. Jika hutan dikelola dengan baik, niscaya akan membawa kebaikan bagi kehidupan masyarakat, namun jika terjadi salah pengelolaan maka akan menjadi bencana bagi rakyat Indonesia, bahkan bagi generasi yang akan datang. Oleh karena itu, sudah sepantasnya apabila konstitusi dan undang-undang yang berlaku mengamanatkan agar kekayaan alam, termasuk hutan dikuasai oleh negara, bukan saja karena fungsinya yang strategis, namun lebih dari itu hutan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Berkaitan dengan itulah, bangsa Indonesia wajib mempertahankan keberadaan dan kelestarian hutan Indonesia dari berbagai ancaman dari pihak manapun. Menurut Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 Ayat (1) Hutan merupakan kekayaan alam bangsa Indonesia yang dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sesuai dengan amanat tersebut, kawasan hutan di seluruh Indonesia telah ditunjuk dan/atau ditetapkan oleh Pemerintah yang luasnya mencapai 120,35 juta Ha (62% dari daratan Indonesia) yang terdiri dari hutan lindung seluas 33,52 juta Ha, hutan produksi 66,33 juta Ha, dan hutan konservasi 20,50 juta Ha.
Di dalam kawasan hutan tersebut terkandung potensi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi sehingga Indonesia disebut sebagai negara megabiodiversitas yang berpotensi strategis. Kekayaan keanekaragaman hayati tersebut merupakan penghuni kawasan-kawasan yang memiliki relung ekologis spesifik pada berbagai tipe ekosistem. Menurut Bappenas (2003) yang mengutip data Departemen Kehutanan tahun 1994 dan Mittermeier dan kawan-kawan tahun 1997, menyebutkan bahwa tidak kurang dari 515 spesies mamalia (12% dunia, 39% endemik, urutan kedua dunia); 511 spesies reptilia (7,3% dunia, 150 endemik, urutan keempat dunia); 1.531 spesies burung (17% dunia, 397 endemik, urutan kelima dunia); 270 spesies amphibia (100 endemik, urutan keenam dunia); 2.827 spesies binatang tak bertulang belakang selain ikan tawar; 121 spesies kupu-kupu (44% endemik); 1.400 spesies ikan tawar (40%); dan 38.000 spesies tumbuhan (55% endemik, urutan kelima dunia) terdapat di Indonesia.
Tingginya potensi dan keanekaragaman hayati tersebut dipengaruhi berbagai faktor di antaranya adalah : wilayah yang luas, keadaan geografis, letak, dan tipe ekosistem yang beragam yang menurut Bappenas (2003), diperkirakan jumlah tipe ekosistem di Indonesia sebanyak 90 tipe. Sebagian besar kekayaan keanekaragamana jenis hayati tersebut ada di kawasan hutan baik yang berfungsi konservasi maupun yang berfungsi produksi. Selain itu, dari segi besarnya luas kawasan hutan Indonesia menduduki nomor dua setelah Brazil. Inilah anugerah Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia yang patut disyukuri dalam wujud pemanfaatannya secara lestari.


Cr : 07 ‎September ‎2013, ‏‎20:47:30

Contoh Analisis Novel "Kisah Sedih Sahabat Pena"

       I.            Sinopsis

            Tiba-tiba tenggorokan Aldin tercekat. Ibu dan Mbak Tanti pun seakan terpaku di tempat duduk mereka. Malam itu mereka bertiga menonton berita Jogja yang dilanda gempa di televisi. Tampak di layar televisi reruntuhan rumah berupa tumpukan batu bata tak beraturan. Kayu-kayu penyangga atap yang membujur ke segala arah mata angin membuat pemandangan semakin berantakan. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun…” desis Aldin, ibu dan mbak Tanti hampir bersamaan. Gambar di layar pun berganti. Tampak di layar televisi para korban gempa terbaring berderet-deret. Tempatnya sembarang. Di Rumah Sakit, di Puskesmas, di jalan-jalan ataupun d lapangan. Luka tertimpa reruntuhan rumah diderita para korban di kaki, di tangan bahkan di kepala mereka.
            Malam itu Aldin ingin Mas Bas ada di sampingnya. Hingga ia dapat menceritakan kegalauan hatinya. Sejak tadi ia masih memikirkan keadaan Amin sahabat penanya, beserta keluarganya yang tinggal di Bantul. Pasti mereka juga merasakan gempa tadi pagi. Bagaimana nasib mereka. Semoga mereka selamat. Atau mungkin mereka ada di antara korban yang luka-luka?
            Ternyata Amin beserta keluarga masih dapat terselamatkan dari gempa. Mereka hanya mengalami luka-luka saja. Mereka bersyukur masih dapat hidup, walaupun ada anggota badan yang cacat.
            Pada waktu gempa, Budiman dan ibunya sedang berada di rumah. Pada waktu itu Budiman berada di dapur, menikmati ubi goreng. Karena lehernya dirasa haus, Budiman berniat membuat segelas teh manis. Pada saat dituangnya air seduhan teh, ia merasa tanah yang dipijaknya bergetar hebat. Segera ia melompat berlari ke luar rumah. Namun, dinding rumahnya roboh dan atap rumahnya jatuh kebawah.
            Budiman jatuh tersungkur. Paku pada kayu usuk genteng tertancap di punggungnya. “Maaan!” suara jeritan Ibu. Segera Bu Dayuti menyingkirkan kayu-kayu yang menindihi tubuh Budiman. Paku yang menancap di punggung Budiman pun dicabut dengan susah payah. Budiman mengerang kesakitan. Oleh ibunya, Budiman segera dibawa ke Pukesmas terdekat.
            Sedangkan Amin dan Ayahnya telah dirawat di Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya. Mereka mengalami luka yang cukup parah, kaki kanan Amin patah. Sedangkan tangan kiri ayahnya diamputasi sebatas siku. Tetapi mereka tetap tegar menerima kenyataan ini.
            Masih beruntung para relawan dapat menolong para korban gempa Yogya. Walaupun banyak orang-orang yang terluka, tetapi mereka masih dapat hidup. Luka kesedihan yang sangat mendalam yang telah mereka rasakan. Tetapi mereka tetap tegar menerima kenyataan. Para Relawan pun sangat membantu mereka. Dengan mengajak warga Yogya melakukan hal-hal yang menyenangkan. Dan membantu memenuhi kebutuhan mereka semua.
            Setelah gempa mulai membaik Aldin bertemu dengan sahabat penanya (Amin). “Namaku Aldin, sahabat penamu.” Tak kuasa Aldin menahan haru. Dirangkulnya Amin yang masih duduk keheranan. Sebuah pertemuan yang indah. Aldin tak menyangka akan bertemu dengan sahabat penanya. Setelah kekagetannya hilang. Amin merasa bahagia. Ia dapat bertemu dengan orang-orang yang mengasihinya. (hal 84 paragraf ke-16).


     II.      Tema

            Cerita novel ini bertemakan “Tolong Menolong” atau juga bisa disebut saling membantu sesama makhluk hidup dalam keadaan apapun baik susah maupun duka. Bisa dimengerti didalam kalimat cerita didalam novel yang berbunyi :
1.      Deg! Mas Bas jadi relawan di Yogya? Mas Bas Mau membantu para korban gempa? Subahanallah. Alhamdulillah….. (hal 44 paragraf ke-4).

2.      Dengan beralaskan rumput, anak-anak yang usianya berlarian itu mengikuti cerita seorang relawan. Di akhir cerita relawan itu bertanya, “siapa yang ingin mengikuti cerita yang lain besok sore? Coba acungkan tangan keatas!” Semua anak-anak mengacungkan tangan. Larut dalam keceriaan. (hal 64 paragraf ke-21 dan 22).

3.      “Alhamdulillah, terima kasih banyak atas bantuannya selama ini. Hari pertama setelah dioperasi, saya tidak menyangka saya akan dapat berjalan kembali. Waktu itu kaki saya terasa sangat ngilu,” jawab si pasien/Amin. (hal 82 paragraf ke-2).

  III.      Alur atau Plot

            Novel ini beralurkan campuran karena menceritakan tentang kejadian kemarin kemudian ke kejadian sekarang. Dan cerita gempa di novel ini mengalami pemuncakan konflik, kemudian konflik mulai menurun, setelah itu konflik muncul lagi, dan penyelesaian konflik pun terjadi.




a.      Penyituasian
            Aldin adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakanya bernama Mbak Tanti dan Mas Bastomi. Ibunya bernama Bu Rani, sedangkan ayahnya Pak Pujo sudah meninggal kira-kira tiga tahun yang lalu. Saat ini ia masih duduk di bangku kelas 6 SD. Di sekolahnya, ia mempunyai sahabat bernama Koko. Hobi Aldin adalah surat menyurat. Dan ia juga mempunyai sahabat pena bernama Amin yang tinggal di Bantul, Yogya. Aldin adalah anak yang perhatian, suka bercanda, jujur, kreatif, pemberani, keras kepala, semangat, selalu bersyukur, dsb.

b.      Pemunculan Konflik
            “Sedang apa, Bu Wid? Kelihatannya serius sekali?” tanya Aldin heran sambil menuang air putih ke dalam gelas. (hal 28 paragraf ke-9).
            “Ini…sedang menunggu berita lanjutan. Tadi sekilas diberitakan kalau ada gempa besar di Yogya. Pagi tadi. Dan katanya, stasiun televisi ini akan melaporkan bagi perkembangannya.” (hal 29 paragraf ke-1).
            Gempa besar di Yogya? Pagi tadi? Oh! Seketika Aldin teringat dengan Amin, sahabat penanya dari Yogya itu. Bagaimana dengan daerah tempat tinggal Amin, ya? (hal 29 paragraf ke-10).

c.       Peningkatan Konflik
            “Angka pasti jumlah korban dan jumlah unit rumah yang roboh belum dapat dilaporkan. Bantul merupakan kabupaten yang paling parah kerusakannya. Gempa yang terjadi pukul lima lebih lima puluh tadi pagi mencapai lima koma Sembilan skala richter, berlangsung selama lima puluh tujuh detik telah membuat daerah ini porak poranda………” suara penyiar berita televisi swasta masih terus mewartakan peristiwa gempa di Yogya. (hal 29 paragraf ke-1).

d.      Puncak Konflik
            “Adanya isu tsunami pukul 9 tadi pagi telah menyebabkan kepanikan yang sangat bagi warga disini. Warga berlarian ke arah utara sebagian warga berjalan kaki, sebagian yang lain berkendaraan……..” lapor sang penyiar berita. (hal 30 paragraf ke-7).





e.      Penurunan konflik
            “Keadaan masjid ini lebih baik dari pada bangunan rumah kita.Kerusakan masjid ini tidak lebih dari dua puluh persen. Insya Allah masih aman jika gempa susulan yidak telalu besar,” jawab yang lain. (hal 38 paragraf ke-53).
            “Subhanallah, Alhamdulillah. Barangkali itulah hikmah dari bencana gempa ini. Sikap tolong menolong sesama penduduk semakin kuat,” Pak Rosid memandang takjub. (hal 53 paragraf ke-24).

f.        Pemunculan Konflik lagi
            Kami merasakan tanah bergoncang hebat…………… Sampai akhirnya aku terbangun di sebuah ambulan. Kakiku terasa sangat sakit. ( hal 77 paragraf ke-5 dari surat Amin).
            “Sebentar, Din. Bukankah stempel posnya Surabaya? Berarti temanmu itu dirawat di Surabaya. (hal 78 paragraf ke-2).

g.      Penyelesaian
            Beberapa rombongan relawan yang telah masuk kedaerah itu kemarin harus mengangkut peralatan mereka dengan berjalan kaki. (hal 47 paragraf ke-14).
            Saat aku tersadar lagi aku berada dirumah sakit. Dokter mengatakan kaki kananku telah dioperasi, luka dipelipisku dijahit. (hal 77 paragraf ke-5 dari surat Amin).
            “Namaku Aldin, sahabat penamu.” Tak kuasa Aldin menahan haru. Dirangkulnya Amin yang masih duduk keheranan. Sebuah pertemuan yang indah. Aldin tak menyangka akan bertemu dengan sahabat penanya. Setelah kekagetannya hilang. Amin merasa bahagia. Ia dapat bertemu dengan orang-orang yang mengasihinya. (hal 84 paragraf ke-16).
           

 IV.      Penokohan

a.       Tokoh - Tokoh Utama
1.      Aldin
Ø  Suka bercanda, buktinya : "Maaf ya Ko. Cuma bercanda. Tapi tidak keliru, kan?" (hal 18 paragraf ke-8).
Ø  Kreatif dan berani, buktinya : "Itulah yang aku suka. Kreatif dan keberanian," ucap Yus mantap. (hal 20 paragraf ke-10).
Ø  Jujur, buktinya : "Kamu memang pantas jadi bos mading Yus," kata Aldin jujur. (hal 20 paragraf ke-11).
Ø  Perhatian, buktinya : Bagaimana nasib mereka . Semoga mereka selamat. Atau mungkin mereka ada diantara korban yang luka-luka tadi?
(hal 34 paragraf ke-24).
Ø  Semangat, buktinya : Ia bertambah semangat manakala teringat keadaan anak-anak SDkorban gempa. ( hal 54 paragraf ke-1).
Ø  Keras kepala, buktinya : "Ah, memang kamu keras kepala. Tidak mau ngikutin omongan Mbak Tanti.........." tanya Mbak Tanti. (hal 60 paragraf ke-29).
Ø  Tak sabar, buktinya : Tak sabar rasanya, ia ingin segera sampai dirumah dan melihat foto-fotonya. (hal 75 paragraf ke-1)
Ø  Selalu bersyukur, buktinya : Oh tidak! Aku cukup bersyukur makan empat sehat setiap harinya lewat kerja ibu. (hal 19 paragraf ke-17).
Ø  Sholeh, buktinya : Sun sayaaaang banget buat Aldin yang salih dan cakep. (hal 44 paragraf ke-4 dari surat mas Bastomi).
Ø  Berusaha, buktinya : Selama itu ia telah berusaha dengan baik mengerjakan soal-soal ujian. (hal 54 paragraf ke-1).

2.      Amin
Ø   Bersyukur, buktinya :
        Aldin, para dokter dan terapis disini baik. Mereka memberiku kertas dan pensil untuk menggambar.
        Mereka melatihku berjalan dengan tongkat. Mereka juga yang mengeposkan suratku ini. (hal 77 paragraf ke-6 dan 7).
Ø  Berani, buktinya : “Bapak rasa kau sudah semakin berani melangkah,” kata Pak Irsyad pada anak itu. (hal 82 paragraf ke-2).
Ø  Semangat, buktinya : “Kau memiliki semangat yang besar untuk sembuh. Itu sangat penting….” (hal 83 paragraf ke-5).
Ø  Tegar/tabah, buktinya : Tapi ia telah memutuskan untuk menerima kenyataan ini. Walau tulang kaki kanannya patah. (hal 83 paragraf ke-11).
Ø  Khawatir, buktinya : Amin mengangguk khawatir. (hal 90 paragraf ke-3).

b.      Tokoh – Tokoh Lainnya :
1.      Mas Bastomi (kakaknya Aldin)
Ø  Baik, buktinya : Sudah ganteng, baik hati lagi. Bikin adikmu ini tambah sayang, kata Aldin dalam hati. (hal 15 paragraf ke-37).
Ø  Perhatian, buktinya : Walau kelihatannya santai, namun Mas Bas penuh perhatian. (hal 15 paragraf ke-38).
Ø  Suka bercanda, buktinya : “……..Kreatif dalam surat menyurat it’s ok. Yang tidak boleh itu kreatif dalam ibadah. Seperti... angkat tangan waktu takbir dengan gaya break dance. Ha… ha… ha…“ Tangan Mas Bas bergerak-gerak menirukan penari break dance. (hal 17 paragraf ke-55).
Ø  Suka membantu, buktinya : Jadi relawan untuk korban gempa. Tolong doakan Mas dan teman-teman. (hal 44 paragraf ke-3 dari suratnya).
Ø  Suka menasehati, buktinya : Mas hanya mau pesan, belajar yang rajin untuk menghadapi UAN. (hal 50 paragraf  ke-5).
Ø  Tidak berputus asa, buktinya : Tak berhasil. Mas Bas mencoba lagi sekuat tenaga dengan dibantu beberapa orang. (hal 51 paragraf ke-13).
Ø  Menepati janji, buktinya : Pagi itu Mas Bas benar-benar menepati janjinya. Ia menelepon adik kesayangannya seusai ia menunaikan salat  Subuh. (hal 58 paragraf ke-1).

2.      Mbak Tanti (kakaknya Aldin)
Ø  Meremehkan, buktinya : “Memangnya Mbak Tanti bisa menggambar sebagus ini?” tantang Aldin tidak terima temannya diremehkan. (hal 13 paragraf ke-23).
Ø  Sering mengingat-ingat jasanya, buktinya : …..tidak sebagaiman Mbak Tanti yang sering mengingat-ingat jasanya. (hal 14 paragraf ke-33).
Ø  Menyebalkan, buktinya : Aldin memandang kakaknya tak suka……. Kalau korban gempa mendengar kata-kata Mbak Tanti  itu, bisa-bisa mereka sport jantung ketiga kalinya. (hal 31 paragraf ke-13).
Ø  Baik, buktinya : “Ini hadiah dari Mbak buat Aldin. Kamera ini memang tidak baru, tapi masih bagus dan enak dipakai.” (hal 61 paragraf ke-2).

3.      Bu Rani (ibunya Aldin)
Ø  Suka menasehati, buktinya : “Sstttt sudah Din, Tanti.” Bu Rani menegur kedua anaknya. “Tidak baik bertengkar sendiri. Apa untungnya saling ngotot? Alhamdulillah, tsunami tidak terjadi……….” (hal 33 paragraf ke-15).
Ø  Baik, buktinya : “……. Doakan juga saudara-saudara kita di Yogya yang terkena gempa,” ujar Ibu mengingatkan anak-anaknya. (hal 35 paragraf ke-46).
Ø  Perhatian, buktinya : “……Insya Allah, kau selalu dilindungi Allah.” Ibu mengelus kapala Aldin. (hal 60 paragraf ke-30).




4.      Mas Budiman (kakaknya Amin)
Ø  Khawatir dan Perhatian, buktinya : “Bagaiman dengan ayah dan Amin, Bu?” tanya anak laki-laki itu sendu tanpa menjawab pertanyaan ibunya. (hal 39 paragraf ke-66).
Ø  Malas, buktinya : Hari itu merupakan jadwal Budiman ikut ayahnya membeli dagangan ke pasar Imogiri. Entah kenapa rasa malas membebaninya. (hal 39 paragraf ke-69).
Ø  Bersyukur, buktinya : “Tapi tidak apa-apa kok, Min. Yang penting kita masih bisa sekolah bersama teman-teman,” ujar Budiman lagi. (hal 95 paragraf ke-5).

5.      Bu Dayuti (ibunya Amin)
Ø  Perhatian, buktinya : Oleh ibunya, Budiman segera dibawa ke Puskesmas terdekat. (hal 42 paragraf ke-85).
Ø  Kasihan, buktinya : kalaupun Ibu merasa kasihan, seharusnya tidak ditunjukan kepada Amin. (hal 92 paragraf ke-14).

6.      Pak Sukri (ayah Amin)
Ø  Ramah, buktinya : Senang dan ramah, itulah yang terpancar di wajah Pak Sukri saat menyambut Aldin. (halaman 86).
Ø  Tegar, buktinya : Ayah juga tegar walau harus merelakan tangan kirinya diamputasi sebatas siku. (halaman 83).
Ø  Suka Menasehati, buktinya : Pak Sukri menyadari kegalauan yang dirasakan anaknya. Maka dinasihatilah putra keduanya itu. (halaman 90).
Ø  Bersyukur, buktinya : “Oh, tentu. Alhamdulillah, kita bisa berkumpul dengan Ibu dan Budiman………,” kata Pak Sukri. (halaman 92).

7.      Yus (teman Aldin)
Ø  Tidak suka bercanda/ Serius, buktinya : Yus bukanlah tipe anak yang suka bercanda. Jadi dapat diduga tawarannya ini pun serius. (halaman 21).
Ø  Berwibawa, buktinya : Rasanya tak tega mempermainkan Yus, bos madding yang berwibawa itu. (halaman 22).

8.      Tatak (teman Aldin)
Ø  Baik, buktinya : “Bagus, kok,” kata Tatak. (halaman 20).
Ø  Tanggung jawab, buktinya : “Sudah beres. Kita masuk, yuk,” ajak Tatak sambil menenteng peralatannya. (halaman 21).

9.      Yasin (teman Aldin)
Ø  Baik
Karena didalam cerita Yasin diceritakan sebagai penanggung jawab madding sekolah. (halaman 19).

10.  Koko (sahabat Aldin)
Ø  Suka membantu, buktinya : “Aku suka membantu Om yang kerja merakit motor-motor antik.” (halaman 18).
Ø  Semangat, buktinya : “Siiip lah,” jawab Koko bersemangat. (halaman 55).
Ø  Panik, buktinya : “Koko, koko. Kita sudah beberapa kali merasakan gempa susulan. Kamu tetap saja panic begitu.” (halaman 67).

11.  Bu Wid (pemilik kantin di sekolah)
Ø  Ramah, buktinya : “Air putihnya habis ya Bu?” tanya Aldin pada Bu Wid, pemilik kantin yang ramah. (halaman 28).

12.  Pak Jono (korban gempa)
Ø  Baik, buktinya : Pak Jono mengajak para tetangganya untuk masuk masjid lagi. Katanya, “Kita sebaiknya masuk lagi. Masuk! Mari masuk!” (halaman 37).

13.  Pak Rosid (relawan gempa)
Ø  Suka membantu, buktinya : “Bas, ayo ikut aku! Cepat! Kita bantu penduduk untuk mengeluarkan korban dari reruntuhan,” ajak Pak Rosid. (halaman 51).
Ø  Penertian, buktinya : “Itu juga salah satu tugas kita. Maklum saja, kejadian kemarin yang hanya sebentar itu telah menyebabkan meninggalnya orang-orang yang mereka kasihi,” jawab Pak Rosid penuh pengertian. (halaman 47).

14.  Mas Nugroho (relawan gempa)
Ø  Baik, buktinya : “Ya, masih ada sepuluh tenda lagi yang bisa dibagikan,” tambah Mas Nugroho. (halaman 47).

15.  Dokter Ilyas (relawan gempa)
Ø  Baik, buktinya : “Bastomi, katanya kamu pandai memijat. Apa betul?” (halaman 49).
Keterangan tambahan : menandakan sewaktu Dokter Ilyas meminta dipijat, ia mengalami kelelahan. Membantu para korban gempa.

16.  Mas Taufik (relawan gempa dan teman Mas Bastomi)
Ø  “Setelah kamu memijat Dokter Ilyas, kamu nanti saya pijat Bas,” kata Mas Taufik. (halaman 49).
17.  Mas Galih (relawan gempa)
Ø  Perhatian, buktinya : “Kalasan ini merupakan daerah wilayah Jawa Tengah yang paling parah kerusakannya akibat gempa kemarin,” Kata Mas Galih…. (halaman 63).

18.  Kamal (korban gempa)
Ø  Bersyukur, buktinya : “........Alhamdulillah, selama ini kami sangat terbantu atas kehadiran kakakmu dan teman-temannya.” (halaman 69).

19.  Dokter Hasan (relawan gempa)
Ø  Suka bergurau, buktinya : “………..Kalau bisa menunya bukan mie. He…he…” gurau Dokter Hasan. (halaman 79).
Ø  Baik, buktinya : “……Kalau kau mau, kau boleh ikut. Insya Allah berangkat jam Sembilan.” (halaman 79).

20.  Pak Irsyad (Dokter RS. Dr. Sutomo Surabaya)
Ø  Baik, buktinya : “Bapak rasa kau sudah semakin berani melangkah,” kata Pak Irsyad pada anak itu……….. ”Alhamdulillah, terima kasih banyak atas bantuannya selama ini………..,” (halaman 82).
Ø  Lembut/perhatian,
buktinya : Tiba-tiba suara Pak Irsyad datang lagi dan menyapanya lembut. “Assalamu’alaikum, Amin.” (halaman 84).


    V.             Latar atau Setting
1.      Latar tempat
Ø  Rumah Aldin, buktinya : Aldin yang baru saja masuk dari rumah dengan cepat menghindar. (halaman 10).
Ø  Kamar Aldin, buktinya : Dengan cepat Aldin masuk kamar. (halaman 10).
Ø  Sekolah Aldin, buktinya : kata  Aldin pada Koko saat istirahat di sekolah. (halaman 18).
Ø  Kantin sekolah, buktinya : “…………..karena prestasi makan bakwannya yang paling banyak di kantin ini,” jawab Aldin menahan tawa. (halaman 18).
Ø  Di dekat madding, buktinya : Yus, penanggung jawab madding sekolah berdiri serius di dekat mading. (halaman 19).
Ø  Yogya, buktinya : Radio kecil berbaterai dua milik Pak Jono sekarang menjadi barang yang penting. Sesaat setelah terjadinya gempa, aliran listrik di Yogya padam. (halaman 36).
Ø  Masjid, buktinya : Pak Jono mengajak para tetangganya untuk masuk masjid lagi. (halaman 37).
Ø  Surabaya, buktinya : Siang yang terik menghias kota Surabaya. (halaman 43).
Ø  Desa Srandakan, buktinya : Rombongan relawan mas Bas dan teman-temannya untuk pertama kalinya akan memulai kerja mereka di desa Srandakan. (halaman 46).
Ø  Pinggir Sawah, buktinya : Tandu segera digotong menuju jalan di pinggir sawah. (halaman 52).
Ø  Terminal bus Giwangan, buktinya : Bertiga diantar Mas Galih sampai di terminal bus Giwangan. (halaman 72).
Ø  RS. Dr. Sutomo, Surabaya
Buktinya :
“Ngg… bukan begitu, Pak Dokter. Kemarin Aldin terima surat dari teman Aldin yang jadi korban gempa. Katanya dia dirawat di rumah sakit Surabaya.”
“Oh, begitu. Besok Bapak memang ad jadwal ke Rumah Sakit dr. Sutomo……” (halaman 79).
Ø  Taman (di dalam RS. Dr. Sutomo, Surabaya)
Buktinya : “Bisakah saya di taman ini dulu?” (halaman 83).
Ø  Ruang perawatan Pak Sukri
Buktinya : Keduanya menuju ruang perawatan Pak Sukri, ayah Amin. (halaman 86).
Ø  Tenda bantuan bagi keluarga Pak Sukri
Buktinya : Mala mini mereka beristirahat di dalam tenda. (halaman 91).
Ø  Sekolah Amin dan Mas Budiman
Buktinya : kata Budiman ketika mereka mendekati lokasi sekolah. (halaman 94).
Ø  Di bawah Pohon, buktinya : Amin duduk di bawah pohon dengan alat-alat gambarnya. (halaman 96).
Ø  Kamar Mas Bastomi, buktinya : ………, isi bungkusan berupa selembar kertas itu ditempel Mas Bas di dinding kamarnya. (halaman 98).


2.      Latar  waktu
Ø  Sore, buktinya : Sore itu, saat Mas Bas pulang dari kerja. (halaman 14).
Ø  Sabtu tanggal 27 Mei, buktinya : “Masya Allah, sekarang hari Sabtu tanggal 27 Mei?! Berarti hari ini tugas matematika dikumpulkan. (halaman 26).
Ø  Pagi, buktinya : Maka sebentar saja, pagi itu di kamar Aldin terjadi kesibukan yang luar biasa. (halaman 26).
Ø  Malam, buktinya : Malam itu mereka bertiga menonton berita gempa di televisi. (halaman 29).
Ø  Siang, buktinya : Siang yang terik menghias kota Surabaya. (halaman 43).

3.      Latar suasana
Ø  Menegangkan, buktinya : “Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun…” desis Aldin, Ibu dan Mbak Tanti hampir bersamaan.
Ø  Menyebalkan, buktinya : Aldin memandang kakaknya tak suka. Kenapa sih harus bicara begitu. (halaman 31).
Ø  Menyenangkan, buktinya :
Aldin menimang kamera itu dengan gembira. Benda yang sudah lama ingin dimilikinya. (halaman 61).
“Hore, asyik!!!” sahut anak-anak itu riuh rendah. Mereka pun bubaran. Aldin dan Koko takjub melihat keceriaan mereka. (halaman 64).
Ø  Mengharukan, buktinya : “Namaku Aldin, sahabat penamu.” Tak kuasa Aldin menahan haru. Dirangkulnya Amin yang masih duduk keheranan. (halaman 84).
Ø  Menyedihkan, buktinya : “Ya, seperti itulah yang aku lihat di layar televisi rumah sakit. Tapi, aku sendiri tidak tahu, bagaimana keadaan rumahku sekarang. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaan Ibu dan kakakku di sana.” (halaman 86).


 VI.            Gaya Bahasa
Ø  Majas Personifikasi
Buktinya : Tiga sinar lampu minyak yang menyala dipasang di dinding masjid meliuk-liuk tertiup angin. (halaman 36).

VII.            Sudut Pandang
              Sudut pandang dalam cerita novel yang berjudul “Kisah Sedih Sahabat Pena” adalah pengarang atau penulis menceritakan tentang orang lain. Maka cerita novel ini mempunyai sudut pandang orang ke-3.



VIII.            Amanat (pesan)
Ø  Manusia adalah makhluk sosial, yang mempunyai ketergantungan satu sama lain. Di dalam cerita novel ini kita diajarkan saling membantu atau tolong-menolong sesama makhluk hidup (manusia).
Ø  Perhatian terhadap seseorang itu baik, maka kita juga harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ø  Janganlah kamu menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas.
Ø  Bekerjasamalah untuk memecahkan suatu masalah agar masalah tersebut cepat terselesaikan.

Cr : Yuniar Arij Puspita N
30 ‎Nopember ‎2013, ‏‎9:04:48